Ternyata Al Qaeda Organisasi Ciptaan Amerika, Terbukti!! - Beberapa waktu lalu serangan terhadap
Al Qaeda di Yaman, termasuk peluncuran peluru kendali yang dipimpin oleh Amerika Serikat adalah rasa ketakutan AS yang berlebihan terhadap
Al Qaeda.
Hal ini diungkapkan oleh analis internasional dari
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Surwandono.
Ia mengatakan, rasa takut AS yang berlebihan membuat negara adidaya itu semakin berupaya untuk mengancurkan kekuatan kelompok yang dianggap oleh
AS sebagai teroris.
“Hal itu dikarenakan kelompok tersebut merupakan penghalang bagi kepentingan-kepentingan AS di semenanjung Arab. Selain rasa takut yang berlebihan, sudah menjadi tujuan AS untuk memusnahkan Al Qaeda”, ujar Surwandono.
Ia juga mengatakan, bahwa ambisi
AS untuk memusnahkan kelompok tersebut, juga karena
Al Qaeda pada awalnya merupakan kelompok yang dibentuk dan didanai oleh
AS untuk menghancurkan kekuatan
Soviet di semenanjung
Arab pada waktu itu, termasuk di Afghanistan dan Pakistan.
Karena pada waktu itu
Soviet sangat dekat dengan negara-negara
Arab. “Pada waktu itu,
Al Qaeda merupakan boneka bagi
AS untuk menghancurkan
Soviet,” tandasnya.
Lebih lanjut Surwandono mengatakan, setelah
Al Qaeda berhasil mengusir
Soviet dari
Semenanjung Arab, maka AS pun berusaha menggulingkan
Al Qaeda pada masa kepemimpinan presiden
George W Bush dengan tuduhan organisasi garis keras, karena dianggap sebagai ancaman ke depan bagi
AS.Sejak saat itu, setiap organisasi yang tidak terima dengan kebijakan-kebijakan luar negeri AS yang ingin menguasai semenanjung Arab, maka AS mengklaim organisasi dimanapun itu sebagai
“teroris”.
“Dan itu berlaku untuk semua organisasi Islam di dunia, termasuk juga yang ada di Indonesia”, pungkasnya. (InfoWars)
Dulu Al Qaeda, Sekarang Kawan Amerika
Craig Unger, wartawan dan penulis terkenal lulusan
Harvard University, pernah menulis bahwa kebijakan politik Amerika Serikat di Timur Tengah selalu berkaitan dengan dua hal: minyak dan
Israel (lihat bukunya, House of Bush, House of Saud, Scribner 2004).
Artinya, semua tindak-tanduk Amerika Serikat di kawasan itu mesti terkait kepentingan negeri super-power itu akan minyak mentah atau kepentingannya untuk melindungi Israel, sekutu dekatnya sejak
Perang Dunia II.
Sebagai negeri dengan ekonomi terbesar di dunia bisa dimengerti kebutuhan Amerika Serikat akan minyak mentah.
Karena
Timur Tengah merupakan sumber terbesar minyak dunia, wajar
Amerika Serikat selalu mempertahankan pengaruhnya di kawasan itu.
Tapi Israel? Ini memang agak membingungkan. Dilihat dari sudut mana pun sebenarnya Amerika Serikat tak membutuhkan
Israel.
Sejak perang
Arab – Israel Oktober 1973,
Amerika Serikat selalu membantu negara Yahudi itu sekitar 3 milyar dollar/tahun.
Bantuan terus diberikan sekali pun
Amerika Serikat sendiri sedang dilanda krisis ekonomi seperti pada 2008.
Tak satu negara pun di dunia yang mendapat bantuan seperti itu dari
Amerika Serikat, bahkan tidak juga negara-negara
Eropa yang selama ini menjadi sekutu terdekatnya. Tak aneh kalau Israel muncul sebagai negara yang kuat secara militer dan ekonomi di Timur Tengah – ekonominya kira-kira setara
Korea Selatan. Ngototnya
Amerika Serikat membela kepentingan Israel seringkali justru merugikan negara adikuasa itu terutama terkait hubungannya dengan sejumlah negara Arab.
Malah
Amerika Serikat picing mata ketika Israel membangun arsenal nuklir di Dimona, Gurun Nejev, dekat perbatasan
Israel – Jordania.
Itu menjadikan Israel satu-satunya negara pemilik senjata nuklir di
Timur Tengah. Sementara itu Amerika Serikat terus-menerus menekan Iran hanya karena negeri itu membangun pembangkit listrik tenaga nuklir.
Dua ahli terkemuka,
Profesor John J.Mersheimer dari
University of Chicago, dan
Profesor Stephen M. Walt dari
Harvard University pernah membuat studi tentang masalah ini. Dan menurut mereka sikap Amerika Serikat terhadap Israel sama sekali tak ada hubungannya dengan kepentingan negara itu sendiri, termasuk kepentingan politik luar negeri Amerika Serikat.
Kalau kenyataannya
Amerika Serikat selalu mendukung
Israel, menurut mereka, tak lain karena pengaruh lobi Israel, yaitu lobi dari orang-orang
Israel atau orang
Amerika Serikat keturunan
Israel yang berada di
Amerika Serikat (lihat The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy, oleh Profesor John J.Mersheimer dan Profesor Stephen M.Walt, Farrar, Straus and Giroux, 2007).
Negara-negara Musim Semi Arab (Arab Spring)
Maka sekarang pun, tatkala negara-negara Arab di kawasan Timur Tengah dan
Afrika Utara sedang dilanda arus revolusi yang disebut Musim Semi Arab (Arab Spring), pendekatan
Amerika Serikat dengan minyak dan
Israel diduga tak akan banyak berubah.
Sesungguhnya
‘Musim Semi Arab’ sekarang tak sesuai dengan keinginan negara adikuasa itu.
Meski tentu saja negara itu tak berusaha mencegahnya karena akan bertentangan dengan prinsip demokrasi yang gencar dikampanyekan Amerika Serikat selama ini ke seluruh dunia. Betapa tidak?
Arab Spring pertama kali hinggap di
Afrika Utara, Januari 2011, menumbangkan
Zine El Abidine Ben Ali, Presiden Tunisia selama 23 tahun, kemudian merayap ke Mesir, menjatuhkan
Presiden Hosni Mubarak yang sudah berkuasa 30 tahun dengan menggunakan undang-undang darurat.
Baik Ben Ali mau pun Hosni Mubarak dikenal sebagai teman dekat Israel dan Amerika Serikat. Jadi dilihat dari kepentingan Amerika Serikat dalam melindungi Israel, kejatuhan
Zine El Abidine Ben Ali dan
Hosni Mubarak adalah merugikan. Apalagi kekuatan dominan dalam perpolitikan
Mesir sekarang adalah kelompok
Ikhwanul Muslimin (Muslim Brotherhood) yang tentu tak disukai
Amerika Serikat.Secara terbatas, gelombang Arab Spring menghempas ke berbagai negara di sekitarnya.
Di
Aljazair, misalnya, gerakan protes berhasil mencabut status negara dalam keadaan darurat yang sudah berlangsung 19 tahun, atau di Jordania
Raja Abdullah terpaksa memberhentikan
Perdana Menteri Rivai dan kabinetnya, dan di Kuwait kabinet dibubarkan memenuhi tuntutan aksi protes.
Atau paling tidak ada janji-janji pembuatan undang-undang oleh semacam badan legislatif yang dipilih seperti dijanjikan Sultan Qaboos di Oman, atau rencana Pemilu lokal oleh pemilih lelaki September mendatang di
Arab Saudi, sesuai janji Raja Abdullah.
Di Yaman dan Syria, pemerintah menghadapkan gelombang protes dengan aparat keamanan sehingga keadaan berubah menjadi aksi kekerasan. Begitu pula yang terjadi di
Libya. Gelombang demo dihadapi dengan peluru.
Maka yang terjadi adalah perang saudara. Sementara itu pesawat-pesawat pengebom
NATO menyerang basis kekuatan militer
Libya atas nama Dewan Keamanan
PBB.
Dewan Keamanan turun tangan akibat kekejaman pemimpin
Libya Muammar Qaddafi dalam menghadapi para demonstran.
Padahal belakangan sesungguhnya
Rezim Qaddafi telah menjalin hubungan akrab dengan Barat.
The New York Times, 2 September lalu, mengabarkan bahwa pada hari itu wartawan dan aktivis
LSM Human Rights Watch menemukan dokumen di sebuah bekas kantor intelijen di
Tripoli.
Dokumen itu mengungkapkan bahwa badan intelijen
Amerika Serikat,
CIA, dan badan intelijen Inggris, MI-6, menjalin kerja sama dengan badan intelijen Libya (Libyan Intelligence Service), setelah Libya menghentikan program pembangunan senjata-senjata non-konvensional, sejak tahun 2004.
Sumberdiambil dari: http://www.zamrudnews.com/2013/06/ternyata-al-qaeda-organisasi-ciptaan.html